Categories: AirlinesHeadline

Seberapa Risiko Terbang Selama Pandemi COVID-19?

Share

Menurut sebuah studi baru-baru ini, satu dari setiap 430.000 orang di dalam pesawat penuh, akan terkena dan meninggal karena COVID-19.

Studi ini diterbitkan oleh Arnold Barnett dari Sloan School of Management di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Jadi, seberapa berisiko terbang selama pandemi? Mari cari tahu.

Seperti yang diketahui, industri penerbangan sedang berjuang melawan kurangnya kepercayaan dari masyarakat akan terbang dengan pesawat. Orang tidak ingin berada di dalam pesawat saat pandemi ini.

Sebagian besar maskapai penerbangan di dunia mewajibkan penumpangnya untuk menggunakan masker wajah selama perjalanan mereka. Namun, kepercayaan pada tingkat historis rendah, menurut banyak penelitian.

Barnett melakukan analisis ini, dengan fokus pada penerbangan selama dua jam, rata-rata untuk penerbangan domestik Amerika Serikat. Dia memperhitungkan bagian kabin Boeing 737 atau Airbus A320.

Ilmuwan mengajukan tiga pertanyaan:

  1. Berapa probabilitas penumpang di dalam pesawat itu menular dengan COVID-19?
  2. Seberapa besar kemungkinan universal masking dapat mencegah penyebaran?
  3. Bagaimana risiko infeksi tergantung pada lokasi di pesawat penumpang yang menular dan tidak terinfeksi?

Dia melakukan beberapa analisis dan menghasilkan persamaan dengan mempertimbangkan beberapa variabel.

Sebagai contoh, ilmuwan menggunakan skenario di mana penumpang memiliki 1% kemungkinan meninggal akibat virus (sedikit di atas 0,7% kemungkinan populasi penuh).

Akibatnya, Barnett mengatakan satu dari 4.300 penumpang bisa terinfeksi. Selain itu, satu dari 430.000 penumpang akan meninggal karena COVID-19 dalam penerbangan dua jam.

Angka-angka ini adalah jika faktor beban pesawat adalah 100%, yang jarang terjadi.

Jika setiap penerbangan memblokir setiap kursi tengah, kemungkinan kematian akibat COVID-19 adalah satu dari 770.000.

Terakhir, pada 2019 faktor beban rata-rata AS adalah 85,1% maka, kemungkinannya adalah 1 banding 540.000. Bagus tidak?

Dibandingkan dengan kegiatan lain, apakah aman untuk terbang sekarang?

Menurut penelitian, terbang selama masa coronavirus ini cukup aman. Meski demikian, tingkat risiko kematian masih lebih tinggi dibandingkan dengan yang terkait dengan kecelakaan pesawat.

Menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), kamu harus terbang setiap hari selama 535 tahun sebelum mengalami kecelakaan pesawat dengan satu kematian.

Untuk mati dalam kecelakaan pesawat, kamu harus melakukan perjalanan setiap hari selama 29.586 tahun, kata IATA.

Arnold Barnett membandingkan risiko kematian akibat COVID-19 dalam penerbangan dua jam dengan risiko “dua jam aktivitas sehari-hari selama pandemi”.

Pada awal Juli, sekitar 600.000 penumpang AS terbang setiap hari. Dengan angka-angka dan penelitian tersebut, berarti setiap hari akan ada 90 kasus COVID-19 dari terbang.

Namun demikian, Barnett menambahkan, “Faktor beban turun di bawah 50% pada bulan Juli, yang berarti jumlah kasus akan mendekati 50 per hari.”

Apa yang dikatakan IATA dan organisasi lain?

Dilansir laman Simple Flying, pada bulan Mei, IATA menerbitkan pernyataan yang mendukung pemakaian penutup wajah untuk penumpang dan awak.

“Bukti menunjukkan bahwa risiko pesawat transmisi di dalam pesawat rendah. Dan kami akan mengambil tindakan untuk menambahkan lapisan perlindungan ekstra,” kata Alexandre de Juniac, CEO IATA.

Organisasi, ICAO, ACI, dan banyak maskapai penerbangan telah mengusulkan banyak langkah untuk mengurangi penyebaran virus di dalam pesawat.

Misalnya, ia mengusulkan pemeriksaan suhu penumpang, pekerja bandara, dan traveler. Ia juga mengatakan bahwa pergerakan di dalam kabin selama penerbangan harus dibatasi.

IATA juga membagikan kisah bagaimana kasus pertama virus corona di Kanada terjadi.

Para pasien, pasangan, melakukan perjalanan dari Wuhan ke Guangzhou dan kemudian Toronto, tiba pada 22 Januari.

Salah satu pasien menunjukkan gejala dan mengalami batuk kering selama penerbangan. Yang lainnya batuk keesokan harinya.

Dari 350 penumpang di pesawat itu, 25 diantaranya berhubungan dekat dengan pasangan itu. Hanya satu kontak dekat yang mengalami gejala batuk tetapi negatif untuk COVID-19.

BACA:

(*)

Irfan Laskito

Editor

Recent Posts

Travel Secrets Naik Sepeda Bareng Wulan Guritno dan Dimas Beck

Travel Secrets bersama Marianne Rumantir dan Luna Maya kali ini akan naik sepeda ke Bogor dengan Wulan Guritno, Dimas Beck,…

4 hours ago

Kursi Terbaik di Pesawat Ketika Terjadi Turbulensi

Turbulensi adalah salah satu bagian paling tidak menyenangkan dari penerbangan bagi banyak penumpang dan bahkan pramugari. Seperti mengendarai mobil di…

21 hours ago

British Airways Kembali Sajikan Makanan Hangat

British Airways kembali memperkenalkan makanan hangat pada penerbangan jarak jauh mulai minggu kemarin 25 Oktober 2020. Setelah berbulan-bulan menyajikan camilan…

22 hours ago

Pakai KK UOB, Dapat Diskon Hingga Rp150 Ribu di Lazada

Nikmati diskon di Lazada ketika kamu belanja online menggunakan Kartu Debit dan Kartu Kredit UOB Mastercard dan dapatkan diskon hingga…

1 day ago

OVO Boskuy Cashback 60% s/d 6 Nov 2020

OVO memiliki promo Boskuy (Belanja Online Sepuasnya Kuy) yang memberikan cashback untuk di berbagai merchant yang bekerja sama. Kamu bisa…

1 day ago

Tukar 1.005 BIG Points untuk Voucher Alfamart Rp25.000

BIG Points memiliki penukaran untuk kamu belanja di Alfamart dengan nilai yang cukup menguntungkan. Tukarkan poin kamu di aplikasi BIG…

1 day ago